Reinkarnasi Tuhan


Untuk penciptaan, Tuhan menjelma menjadi tiga Visnu. Yang pertama,  Maha Visnu, atau Karanodakasayi Visnu, menciptakan jumlah keseluruhan energi material, yang dikenal sebagai Maha tattva. Dia berbaring di air Mahat tatva, yang disebut Lautan Penyebab. Ketika itu, alam semesta yang tak terhitung jumlahnya keluar dari pori-pori badanNya bersamaan dengan nafasNya.
Dalam setiap alam semesta, Maha Visnu masuk sebagai Garbhodakasayi Visnu dan berbaring di atas ular Sesa. Dari pusar Garbhodakasayi Visnu tumbuh setangkai bunga padma, tempat lahir Brahma, penguasa satu alam semesta. Dari Garbhodakasayi Visnu muncul Ksirodakasayi Visnu, yang masuk ke dalam setiap atom di tiap alam semesta, yang dikenal sebagai Roh Utama atau Paramatma. Dia bersemayam di hati semua mahluk. Semua avatara Tuhan di alam semesta ini bersumber dariNya.

Jutaan tahun silam, Tuhan muncul berwujud seekor ikan dan memperingatkan raja Satyavrata tentang banjir besar yang akan terjadi. Setelah menerima petunjuk tersebut. Raja Satyavrata bermeditasi kepada Tuhan selam tujuh hari. Lalu, awan besar mulai mencurahkan hujan deras yang membuat laut meluap dan membanjiri dunia. Ketika dunia dibanjiri air peleburan, sebuah perahu istimewa muncul secara misterius di hadapan raja Satyavrata dan ketujuh Rsi. Saat itu muncul pula seekor ikan mas besar bertanduk (Matsya Avatara). Mengikuti petunjuk-petunjuk yang telah disabdakan sebelumnya, sang raja menambatkan perahu ke tanduk ikan itu, menggunakan naga Vasuki sebagai tali. (Masih dalam proses awal pembentukan bumi atau Zaman es)

Suatu ketika para dewa dan asura ingin mengocok lautan susu untuk mendapatkan Amrta, dan dipilihlah gunung Mandara sebagai tongkat pengocok. Tetapi, karya agung itu memerlukan landasan mahaluas sebagai penyangga gunung besar tersebut. Tuhan berinkarnasi menjadi Kura-kura Mahabesar (Kurma Avatara), yang berenang di lautan susu. Ketika para dewa dan asura memutar gunung Mnadara yang bersandar di atas punggung Tuhan Kurma, gerakan berputar gunung itu dirasa nikmat oleh Tuhan seolah-olah menggaruk badanNya. Untuk menyeimbangkan gunung Mandara, Tuhan sendiri juga muncul di puncak gunung itu. (Pembagian alam menjadi 2 bagian, yaitu alam atas dan alam bawah, dimana Kurma Avatara disimbulkan inti bumi yang sangat panas sedangkan Naga Basuki diibaratkan kerak bumi yang terus bergerak yang dapat menimbulkan gempa bumi)

Hanya dalam keadaan tertentu planet-planet bisa mengambang di angkasa. Begitu keadaan ini terganggu, planet-planet bisa jatuh ke lautan Garbhodaka di dasar alam semesta. Dahulu kala, semua asura yang di pimpin Hiranyaksa, menciptakan gangguan terhadap mengambangnya bumi sehingga bumi terlepas dari orbitnya dan jatuh ke lautan Garbhodaka. Saat itu, Tuhan mengambil wujud Babi Hutan Mahabesar (Varaha Avatara) dengan taring besar, menggangkat planet bumi. Saat  Tuhan menggangkat bumi, Hiranyaksa menghalangi, maka terjadi pertempuran hebat. Akhirnya Hiranyaksa terbunuh dan para dewa serta penduduk planet-planet memuji atas kegiatan Tuhan ini. (Karena bumi masih dalam proses pembentukan, maka  planet bumi dalam tata surya ditempatkan pada posisi nomer tiga dari matahari, agar bisa dijadikan rumah semua mahluk hidup)

Kesaktian yang diperoleh raksasa Hiranyakasipu hampir sebanding dengan kekekalan sehingga dia yakin tidak akan terbunuh oleh manusia atau dewa, atau dengan senjata apa pun, tidak akan mati di siang hari maupun malam, tidak mati di atas tanah, di laut, ataupun di udara. Untuk melindungi Prahlada dari ancaman Hiranyakasipu, ayahnya sendiri, Tuhan berinkarnasi sebagai Narasinga. Pada petang hari (bukan siang ataupun malam) Sri Narasinga membunuh Hiranyakasipu di atas pengakuanNya, yang bukan di atas tanah, air, atau angkasa, dan merobek perut Hiranyakasipu dengan kuku-kukuNya, yang tidak dibayangkan oleh Hiranyakasipu sebagai senjata. (Zaman batu)

Maharaja Bali, raja kaum asura, sangat murah hati kepada para brahmana. Karena itu, Tuhan menyamar menjadi seorang Brahmana-Cebol (Vamana Avatara), dan meminta tanah kepadanya seluas tiga langkah kaki. Ketika Sri Vamana meminta sedekah remeh seperti itu. Maharaja Bali langsung setuju, Sri Vamana melangkahi semua wilayah alam semesta dengan langkah pertama dan kedua lalu bertanya di mana langkah ketigaNya bisa ditempatkan. Maharaja Bali dengan senang hati menerima langkah ketiga Tuhan di atas kepalanya, sehingga bukannya kehilangan segalanya justru ia terbekati. (Lahirnya ras cebol di dunia atau manusia lahir dengan tubuh pendek)

Ketika para pemimpin pemerintahan, yakni para ksatriya, menyimpang dari jalan kebenaran, Tuhan dalam inkarnasiNya sebagai Resi Parasurama membinasakan raja-raja yang tidak diinginkan tersebut, yang merupakan duri bagi dunia. Demikianlah Parasurama membinasakan para ksatriya duapuluh satu kali dengan kapakNya. (Lahirnya 4 warna dengan istilah catur warna/golongan)

Tuhan Yang Maha Esa lahir di keluarga Maharaja Iksvaku dan dikenal sebagai Ramacandra. Dalam situasi sulit, Sri Ramacandra diperintahkan oleh ayahNya, Maharaja Dasaratha, untuk tinggal di hutan. Sebagai putra teladan, Sri Ramacandra melaksanakan perintah tersebut, bahkan saat akan dinobatkan sebagai Raja Ayodhya. Salah satu adikNya, Laksamana, ingin ikut bersamaNya, demikian pula permaisuriNya, Sita. Maka kemudian mereka memasuki hutan hutan Dandakaranya, untuk tinggal di sana selama 14 tahun. Selama di hutan, terjadi perselisihan antara Sri Ramacandra dan Ravana, karena Ravana menculik Sita. Perselisihan berakhir dengan binasanya Ravana yang sangat perkasa itu. (Lahirnya cerita Ramayana yang ditulis oleh Rsi Walmiki ini mengandung filosofi bagaimana membedakan baik dan jelek, serta hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan binatang, dan manusia dengan alam sekitarnya)

Tuhan dalam inkarnasiNya sebagai Srila Vyasadeva mempertimbangkan bahwa kesusastraan Veda yang telah disusunnya akan sangat sulit dimengerti oleh orang-orang yang kurang cerdas dan berusia singkat, sehingga Vyasadeva membagi pohon pengetahuan Veda menjadi berbagai cabang. Vyasadeva membagi Veda yang tunggal menjadi empat dan menyederhanakannya. Kemudian beliau menyusun Mahabharata. Tetapi tetap beliau belum puas. Ketika Vyasadeva sedang menerapi kekurangannya. Narada tiba di asramanya di tepi sungai Sarasvati. Narada menganjurkan agar Vyasadeva menyusun Srimad-Bhagavatam yang secara khusus menguraikan tentang kegiatan-kegiatan rohani Tuhan Yang Maha Esa. (Munculnya cerita Mahabharata dan awal dari zaman kaliyuga)

Ketika dunia terbebani oleh pasukan tempur raja-raja ateis. Tuhan turun bersama perbanyakanNya untuk mengurangi beban dunia. Tuhan datang dalam wujud asliNya, Sri Krishna, bersama Sri Balarama di keluarga Vrisni (dinasti Yadu). Untuk meluaskan keagungan rohaniNya, Krishna bertindak dengan sangat luar biasa. Sri Krishna bukanlah satu inkarnasi Tuhan, melainkan sosok Tuhan asli, dan Balarama adalah maniifestasi pertamaNya. Krishna bukanlah avatara, melainkan avatari, sumber semua avatara. Tentu Krishna tidak perlu datang secara pribadi hanya untuk menyingkirkan beban dunia. Krishna turun untuk memperlihatkan kegiatan-kegiatan permainan rohaniNya untuk menyenangkan hati para penyembah murniNya. (Lahirnya dua individu yang berbeda dalam satu jiwa dan juga lahirnya agama kristen di dunia)

Sang Buddha muncul di propinsi Gaya (Bihar) sebagai putra Anjana, dan Dia mengajarkan paham anti kekerasan (ahimsa) dan bahkan mengkritik korban hewan yang disetujui Veda. Ketika Buddha muncul. secara keseluruhan para ateis merajalela. Mereka memilih makan daging daripada segala jenis makanan lain. Dengan mengatasnamakan korban suci Veda, praktis setiap tempat dijadikan rumah jagal, dan penyembelihan hewan dilakukan tanpa batas. Buddha mengelabui para ateis. Walau mereka tidak yakin kepada Tuhan, mereka yakin sepenuhnya kepada sang Buddha. Sang Buddha sendiri adalah inkarnasi Tuhan. Demikianlah orang yang tidak beriman menjadi percaya kepada Tuhan dalam wujud sang Buddha. Itulah karunia sang Buddha. (Lahirnya agama Buddha di dunia)

Pada zaman kali yuga ini tidak akan ada lagi topik-topik tentang Tuhan, bahkan di kediaman orang-orang yang disebut-sebut orang suci dan terhormat. Kekuasaan pemerintahan akan beralih ke tangan menteri-menteri yang dipilih dari golongan rendah. Tidak akan ada lagi yang diketahui tentang cara-cara korban suci, bahkan yang berupa kata-kata yang diucapkan. Dalam keadaan masyarakat manusia yang demikian merosot, Tuhan akan menjelma sebagai Kalki, penghukum tertinggi, dan membunuh semua iblis tanpa ampun. (Lahirnya agama Islam di dunia)


Pada akhirnya di zaman ini (Kali yuga), Tuhan Yang Maha Esa yang melampaui segala sifat material berhubungan secara tidak langsung dengan sifat alam material, yaitu nafsu, kebaikan, dan kebodohan. Untuk penciptaan, pemelihara dan peleburan dunia material, Tuhan mengambil wujud-wujud berdasarkan sifat tersebut, yaitu Brahma, Visnu, dan Siva. Visnu adalah penguasa sifat kebaikan (sattvam), Brahma sifat nafsu (rajas), Siva sifat kebodohan (tamas). Penciptaan dimungkinkan melalui sifat kebaikan yang dikuasai oleh Visnu, dijalankan oleh sifat nafsu yang dikuasai Brahma, dan ketika perlu dihancurkan, Dewa Siva melaksanakannya melalui tarian penghancurannya (tandava-nritya). (Bumi mengalami kehancuran atau Independent day/ kiamat)

16 Comments