<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gussuta.com &#187; Photography</title>
	<atom:link href="http://www.gussuta.com/category/photography/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gussuta.com</link>
	<description>My Personal Blogger</description>
	<lastBuildDate>Sun, 12 Dec 2010 23:53:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Pengenalan Fotografi Digital</title>
		<link>http://www.gussuta.com/photography/pengenalan-fotografi-digital.html</link>
		<comments>http://www.gussuta.com/photography/pengenalan-fotografi-digital.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 01:32:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gussuta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gussuta.com/?p=626</guid>
		<description><![CDATA[Banyak sekali perbedaan antara fotografi digital dan fotografi film (analog). Pertama-tama terdapat perbedaan yang sangat besar pada teknik perekaman gambarnya (image recording). Film menggunakan teknologi kimia, sedangkan digital menggunakan teknologi elektronika. Dengan demikian terjadi perpindahan teknologi kerja secara menyeluruh. Hal ini juga membawa dampak besar pada aspek kreatifnya, misalnya komposisi perannya berkurang, peranan yang lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="size-medium wp-image-629 alignleft" style="float: left;" title="Prinsip Kerja Kamera" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/09/prinsip-kerja-kamera-300x198.jpg" alt="" width="154" height="124" />Banyak sekali perbedaan antara fotografi digital dan fotografi film (analog). Pertama-tama terdapat perbedaan yang sangat besar pada teknik perekaman gambarnya (image recording). Film menggunakan teknologi kimia, sedangkan digital menggunakan teknologi elektronika. Dengan demikian terjadi perpindahan teknologi kerja secara menyeluruh.<br />
Hal ini juga membawa dampak besar pada aspek kreatifnya, misalnya komposisi perannya berkurang, peranan yang lebih besar saat ini adalah bagaimana kita mengembangkan desain dan ide (gagasan) untuk sebuah tampilan gambar.<br />
<span id="more-626"></span><br />
Apa yang harus diperhatikan untuk mendapatkan gambar yang kita inginkan ? Gambar digital adalah gambar langsung jadi (instan), kita bisa mengevaluasi dan menyempurnakannya saat itu juga. Hal ini membawa perubahan yang sangat besar pada prosedure kerja kreatif.<br />
Selain kamera dan teknik pemotretannya, kita juga bisa mengolah gambar dengan komputer, kita bisa menyempurnakan tampilan gambar, atau merobah total bentuk, warna maupun membuat gabungan beberapa gambar. Akibatnya kreatifitas dengan sistem elektronik menjadi tak terbatas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gussuta.com/photography/pengenalan-fotografi-digital.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keunggulan Sistem Fotografi Digital</title>
		<link>http://www.gussuta.com/photography/keunggulan-sistem-fotografi-digital.html</link>
		<comments>http://www.gussuta.com/photography/keunggulan-sistem-fotografi-digital.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 00:53:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gussuta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gussuta.com/?p=615</guid>
		<description><![CDATA[Saat menggunakan kamera digital biasanya kita merasakan kemudahan yang luar biasa untuk mendapatkan gambar yang kita inginkan. Untuk memperoleh sebuah foto, kita tinggal menekan tombol rananya&#8230;.crek&#8230;&#8230;., gambar sudah jadi. Tidak ada lagi berbagai kerepotan untuk mengatur berbagai kendali kamera, mulai rana, diafragma, fokus dan sebagainya, agar kita bisa mendapatkan sebuah rekaman gambar foto yang memuaskan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="size-medium wp-image-620 alignleft" style="float: left;" title="Kamera" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/09/kamera-300x221.jpg" alt="" width="142" height="116" />Saat menggunakan kamera digital biasanya kita merasakan kemudahan yang luar biasa untuk mendapatkan gambar yang kita inginkan. Untuk memperoleh sebuah foto, kita tinggal menekan tombol rananya&#8230;.crek&#8230;&#8230;., gambar sudah jadi. Tidak ada lagi berbagai kerepotan untuk mengatur berbagai kendali kamera, mulai rana, diafragma, fokus dan sebagainya, agar kita bisa mendapatkan sebuah rekaman gambar foto yang memuaskan. Karena pembuatan foto-foto terasa mudah, maka banyak orang mulai menganggap bahwa fotografi itu gampang, bahkan mudah sekali seseorang menjadi manusia yang kreatif dengan fotografi.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-615"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Membeli kamera digital, baterai, kartu memori, pembaca kartu (card reader), penyimpan data genggam (mobile data storage) dan berbagai perlengkapan lainnya merupakan modal keseluruhan dari sistem digital yang kita gunakan untuk bekerja. Kita tidak dibebani biaya untuk proses perekaman gambar-gambar foto. Kita bisa merekam foto sebanyak-banyaknya tanpa terganggu oleh jumlah material maupun prosedur proses selanjutnya.<br />
Karena itu membuat atau membidik banyak gambar bukan masalah, ini memberi peluang penggunaan fotografi lebih intensif untuk berbagai keperluan, mulai dengan kebutuhan dokumentasi, keluarga, kantor, tugas liputan, atau foto untuk keperluan komersiil. Tetapi manfaat kamera digital tidak sampai di situ saja. Kita bisa menggunakannya untuk dokumentasi riset dan pendidikan, pustaka foto, presentasi pribadi, bisnis, maupun pengetahuan dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada beberapa keunggulan sistem fotografi digital :<br />
1. Foto dengan biaya rendah (subyek tidak terbatas)<br />
2. Gambar langsung jadi (koreksi atau penyempurnaan lebih cepat, lebih memuaskan, lebih menyenangkan)<br />
3. Tidak terikat komposisi (kita hanya berkonsentrasi pada subyek atau bagian pandangan yang diinginkan)<br />
4. Orientasi pada gagasan (masalah teknis sudah banyak dilaksanakan oleh perangkat kerja, sehingga banyak berkonsentrasi pada ide dasar, gagasan dan konsep artistik memiliki peran penting dalam proses kerja kreatif)<br />
5. Fungsi fotografi tidak terbatas (tidak terbatas pada dokumentasi saja, juga untuk ekspresi seni, presentasi bisnis dan pengetahuan, pendidikan &amp; hiburan, serta dokumentasi arsip &amp; koleksi pribadi)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gussuta.com/photography/keunggulan-sistem-fotografi-digital.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknik Jepretan Kamera</title>
		<link>http://www.gussuta.com/photography/teknik-jepretan-kamera.html</link>
		<comments>http://www.gussuta.com/photography/teknik-jepretan-kamera.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 04:18:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gussuta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gussuta.com/?p=562</guid>
		<description><![CDATA[Prinsip Lubang Jarum Prinsip SLR (single lenses reflex) Diafragma Shutter Speed Angle Lenses 1. Panning (kecepatan rendah mengikuti gerakan obyek) 2. Ruang Tajam a. Tajam Luas (lubang diafragma kecil  f11-f22) b. Tajam Sempit (lubang diafragma besar  f2,8-f5,6) 3. Stop Action (kecepatan tinggi pada kamera) 4. Slow Action (kecepatan rendah pada kamera) 5. Zooming a. Gerakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Prinsip Lubang Jarum </strong><strong> </strong></p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-594" title="Prinsip Lubang Jarum" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/prinsip-lubang-jarum-300x182.jpg" alt="" width="216" height="129" /></p>
<p><strong>Prinsip SLR (single lenses reflex)</strong></p>
<p><img class="size-medium wp-image-584" title="Prinsip SLR" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/prinsip-slr-300x217.jpg" alt="" width="208" height="150" /></p>
<p><span id="more-562"></span></p>
<p><strong>Diafragma</strong></p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-585" title="Diafragma Kamera" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/diafragma-kamera-300x177.jpg" alt="" width="300" height="177" /></p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong>Shutter Speed</strong></p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-586" title="Shutter Speed" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/shutter-speed-291x300.jpg" alt="" width="224" height="230" /></p>
<p><strong>Angle Lenses</strong></p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-587" title="Angle Lenses" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/prinsip-kamera-300x217.jpg" alt="" width="240" height="173" /></p>
<p><strong>1. Panning </strong>(kecepatan rendah mengikuti gerakan obyek)</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-566" title="Panning" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/panning01-300x203.jpg" alt="" width="201" height="135" /> <img class="alignnone size-medium wp-image-567" title="Teknik Panning" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/panning02-274x300.jpg" alt="" width="196" height="132" /></p>
<p><strong><br />
2. Ruang Tajam</strong><br />
a. Tajam Luas (lubang diafragma kecil  f11-f22)</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-568" title="Ruang Tajam Luas" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/ruang-tajam-luas-300x199.jpg" alt="" width="198" height="148" /></p>
<p>b. Tajam Sempit (lubang diafragma besar  f2,8-f5,6)<br />
<img class="alignnone size-medium wp-image-569" title="Ruang Tajam Sempit" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/ruang-tajam-sempit-300x199.jpg" alt="" width="192" height="151" /></p>
<p><strong><br />
3. Stop Action (kecepatan tinggi pada kamera)</strong></p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-570" title="Stop Action" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/stop-action-300x118.jpg" alt="" width="391" height="153" /></p>
<p><strong><br />
4. Slow Action (kecepatan rendah pada kamera)</strong></p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-571" title="Slow Action" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/slow-action.jpg" alt="" width="199" height="134" /></p>
<p><strong><br />
5. Zooming </strong><br />
a. Gerakan lensa maju-mundur</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-572" title="Zooming Maju-Mundur" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/zooming01-300x199.jpg" alt="" width="225" height="149" /></p>
<p>b. Gerakan lensa maju-mundur sambil digerakan kanan-kiri</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-573" title="Zooming Kanan-Kiri" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/zooming02-300x201.jpg" alt="" width="225" height="130" /><br />
<strong></strong></p>
<p><strong>6. Siluet (mengukur cahaya pada latar belakang)</strong></p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-574" title="Siluet" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/siluet-300x203.jpg" alt="" width="222" height="150" /><br />
<strong></strong></p>
<p><strong>7. Bulb (shutter speed B = 15 &#8211; 30 detik)</strong></p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-575" title="Bulb" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/bulb.jpg" alt="" width="277" height="214" /><br />
<strong></strong></p>
<p><strong>8. Out Focus</strong></p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-576" title="Out Focus" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/out-focus-300x199.jpg" alt="" width="257" height="169" /></p>
<p><strong>9. Slow Rear (flash yang disetting 2 kali/dt)</strong></p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-578" title="Slow Rear" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/slow-rear-300x225.jpg" alt="" width="222" height="166" /></p>
<p><strong>10. Fill in flash </strong></p>
<p>a. Tanpa flash</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-579" title="Tanpa Flash" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/flash01-300x200.jpg" alt="" width="216" height="144" /></p>
<p>b. Dengan Flash</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-580" title="Dengan Flash" src="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/flash02-300x200.jpg" alt="" width="218" height="145" /></p>
<p><a href="http://www.gussuta.com/wp-content/uploads/2008/08/out-focus.jpg"><br />
</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gussuta.com/photography/teknik-jepretan-kamera.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

